This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 21 Oktober 2013


Tips Setting Kekencangan Rantai


Melakukan setting rantai mungkin terlihat mudah bagi orang-orang yang sering melakukannya, tetapi bagi orang yang baru belajar tidak demikian, kare banyak aspek yang perlu diperhatikan.
Dalam mengencangkan rantai motor yang perlu diperhatikan bukan hanya persoalan kendur atau kencang saja. Akan tetapi kelurusan roda belakang dan roda depan juga harus diperhatikan, untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan.
Saat Anda ingin mengencangkan rantai motor, pertama-tama longgarkan semua baut yang terhubung dengan proses ini. Yakni baut penjepit rantai, baut as roda belakang, baut No.17, baut pengatur ketegangan rantai dan baut No.10.
Setelah itu, guncangkan roda belakang hingga indikator kelurusan roda belakang dapat terlihat dan posisinya sama dengan roda depan. Selain itu, pastikan garis indikator sebelah kiri dan kanan berada pada posisi yang sama.
Kemudian kencangkan baut penjepit rantai secara perlahan, namun jangan terlalu kencang. Atur ketegangan roda belakang sesuai dengan standar motor Anda dengan mengatur baut No.10. Seusai itu, Anda dapat kembali mengencangkan semua baut.
Untuk catatan, pastikan baut No.17 terpasang kuat. Sebab baut ini menyangga roda belakang motor Anda. Jika baut ini dipasang terlalu longgar, bisa menyebabkan roda yang tidak stabil.

                                                                                                                                        www.otosia.com

Kamis, 10 Oktober 2013

TIPS Velg Kiclong dengan air soda

Bahan : 
1. Kain berbahan halus
2. Kain chamois (kanebo)
3. Air soda
4. Air bersih

      Cara :
      1.       Lepas velg dari motor dan bannya atau jika tidak mau dilepas, pastikan bagian-bagian velg  dibersihkan       dengan benar,
      2.      Tuangkan air soda secukupnya ke lap chamois (kanebo) lalu gosok-gosok pada bagian yang kotor. (air         soda yang digunakan air soda tanpa gula),
      3.      kemudian bilas / rendam velg dengan air bersih sambil di lap-lap (langkah ini agar air soda dan debu-             debu yang menempelnya terbilas oleh air, dan tidak melekat kembali pada velg),
      4.      Terakhir, keringkan velg dengan lap berbahan halus (harus sampai kering, agar tidak menjadi lembab             dan malah menyebabkan velg berkarat).

Hasil :

akan sama seperti chrome, karena minuman bersoda yang mengandung asam sitrik gunanya untuk membersihkan karat - karat yang menempel di besi atau Velg motor.

Kamis, 11 Oktober 2012

Bikin Kinclong Karburator, Modal Sabun dan Aki Zuur


Tidak ada salahnya menjaga kebersihan permukaan luar karburator. Apalagi, sebenarnya ada teknik mudah dan enggak butuh waktu lama buat membersihkannya. Cuma modal sabun cream alias sabun colek buat cuci baju dan air aki zuur saja.

“Pakai dua bahan itu sudah cukup bikin kinclong kok. Soalnya kalau permukaan luar karburator kotor, kesannya motor enggak pernah diservis,” bilang Ismail dari Si Mbah Jaya Motor (SJM) di Jl. Cigalagah, No. 35, Pasar Kurucuk, Karamatmulya, Kuningan, Jawa Barat.

Ismail yang juga seorang pembalap ini, coba kasih panduan. Selain kedua bahan yang sudah disebut di atas, sobat juga butuh wadah buat merendam karbu. Lalu, sikat gigi bekas atau kuas cat yang berukuran kecil buat menggosok hingga ke permukaan-permukaan terdalam.

Setelah bahan dan perlengkapan disiapkan, kini campurkan air aki zuur dan sabun colek secukupnya ke dalam wadah. Misalnya, setengah botol air aki zuur dan tiga hingga empat sendok teh sabun colek. Setelah itu, aduk keduanya hingga campuran merata. Jangan diminum ya.

Selanjutnya, buka karburator dari intake dan lepaskan seluruh part yang ada di karbu. “Jangan lupa komponen karet, plastik dan spuyer di dalam karburator harus dilepas agar tidak rusak oleh air zuur,” wanti si Mbah Mail, panggilan keren Ismail.

Usai semua part terlepas, kini rendam kedua (bagian atas karbu dan mangkok) ke cairan campuran yang sudah disiapkan tadi. Sembari direndam, baiknya perlahan diaduk juga. Sehingga cairan bisa masuk atau mengenai bagian yang sulit dijangkau.

Tak butuh waktu lama, proses perendamannya. “Hanya sekitar 2–3 menit saja sudah cukup kok. Apalagi kalau karbu itu enggak kotor-kotor banget. Setelah diangkat, gosok karbu pakai sikat atau kuas," kata si Mbah lagi.
Bilas pakai air bersih sembari di gosok (kanan). Campurkan 100 ml untuk 1 sendok teh sabun colek(kiri)
Perhatikan
Karena air zuur mengandung H2SO4 (asam sulfat), jadi waspada agar jangan terkena kulit. Bila terkena kulit bisa-bisa tangannya gatel-gatel. Jadi hati-hati deh dalam pengerjaan nya.

Oh ya! Jika dirasa permukaan luar karbu masih kurang bersih, proses ini bisa diulang lagi ya. Pokoknya sampai taraf kinclong yang diinginkan.

Usai membersihkan permukaan luar, sekalian membersihkan bagian dalam karbu. Tapi jangan pake air zuur dan sabun. Seperti peranti macam pilot-jet dan main-jet bahkan botol skep juga. Bersihkannya bisa pakai bensin. Lalu, keringkan pakai angin kompresor agar bersih dari air dan partikel debu. (motorplus-online.com)

Jumat, 21 September 2012

Beda CDI Standar dan Racing, Ada di Timing Pengapian dan Limiter




Bagi yang senang korek mesin pasti sudah paham apa itu CDI racing. Namun bagi pemula yang baru kenal motor tidak mengerti apa itu CDI racing. Bahkan bisa diartikan salah kaprah. CDI racing bisa dibilang untuk membesarkan api busi. Ini harus diluruskan.

Pertanyaan apa sih CDI racing pernah terlontar dari pembaca. Untuk itu bisa dijelaskan lagi. CDI racing dengan CDI standar ada perbedaan. “Pertama, dari timing atau derajat pengapian. Diukur dari TMA (Titik Mati Atas) atau posisi piston paling atas atawa TOP,” jelas Novry Zainulloh dari NZ Racing di Jl. KH Mas Mansyur, Ciledug, Tangerang.

CDI racing biasanya timing pengapian lebih advanced. Maksudnya derajat pengapian lebih maju. Misalkan di CDI standar pada 6.000 rpm, timing pengapiannya 30 sebelum TMA. Api busi memercik 30 sebelum TMA. Nah, di CDI racing bisa saja lebih maju 32 derajat.

Biasanya oleh produsen CDI racing dites menggunakan dinotes atau di sirkuit. Berdasarkan coba-coba, timing pengapian dimajukan. Atau bahkan dimundurkan. Kemudian dites, jika power naik dan tidak ngelitik didapat derajat yang pas.

Setelah didapat derajat yang pas, oleh produsen CDI racing diproduksi massal. Biasanya timing pengapian ini disesuikan dengan kondisi bahan bakar lokal. Ada hubungan dengan oktan bensin.

Makin bagus bahan bakar, punya oktan yang tinggi. Misalnya bensin Premium punya oktan 88. Setelah ganti pakai Pertamax Plus oktannya 92. Timing pengapian bisa lebih maju supaya power yang digapai maksimal. Karena bahan bakar oktan tinggi perlu pembakaran lebih lama agar tuntas terbakar.



CDI racing programable bisa atur maju mundur derajat pengapian
Di CDI racing, selain timing pengapian yang berbeda dengan CDI standar, biasanya rpm limiter dihilangkan. Misalnya di motor standar yang asalnya limiter di 9.500 rpm mesin sudah mbrebet, di CDI racing bisa dihilangkan. Bahkan bisa diseting lebih tinggi. Misalnya di 14.000 rpm supaya mesin lebih teriak. Di motor standar dikasih rpm limiter atau putaran dibatasi supaya awet dan irit.

Dalam penentuan timing pengapian juga berhubungan dengan rasio kompresi. Misal dari spesifikasi teknik di motor standar 9,3 : 1. Cukup pakai bensin Premium dengan timing pengapian 30 derajat.

Begitu rasio kompresi dibikin 12,5 : 1 tak bisa pakai Premium. Minimal harus Pertamax Plus dengan timing pengapian harus lebih maju. Makanya di balap muncul CDI racing programmable. Artinya timing bisa diubah-ubah sesaui rasio kompresi dan bahan bakar. (motorplus-online.com)

Rabu, 12 September 2012

Pembakaran Tepat Karena Api Gede Atau Timing Pas?




Power besar didapat dari ledakan pembakaran tepat pada waktunya. Sedangkan yang mengantur pembakaran yaitu CDI. “Makanya CDI lebih berperan dibanding koil atau busi api gede,” jelas Bobeng alias Sugiono, mekanik kawakan yang lebih awal konsen pengapian.

Kondisi ideal, api busi memercik 10 sampai 45 kruk as sebelum TMA (Titik Mati Atas). Tergantung oktan bahan bakar, kompresi dan putaran mesin.

Semakin tinggi oktan dimiliki bahan bakar, punya daya tahan lama terhadap percikan api busi. Untuk membakar bensin bagus butuh waktu lebih. Makanya timing pembakaran lebih awal. Misalnya 40 derajat sebelum TMA.

Ini perlunya pengaturan waktu peng-apian agar didapat ledakan pas. Jangan sampai lebih awal atau lebih lambat. Kalau pembakaran lebih awal, piston sedang naik dan terjadi ledakan, membuat seher pecah atau rompal.

Jika ledakan pembakaran lebih lambat juga membuat power tidak besar. Ledakan maksimum di ruang bakar saat piston 5 s/d 20 melewat TMA. Ini yang dianggap pas.

Jadi, bukan api yang besar untuk mendapatkan pembakaran pas. Tapi, timing pengapian pas.(motorplus-online.com)  

Mimpi Minerva R150VX Menjadi Ducati 1198S




Jakarta, Meski jarang mengendarai sepeda motor, Heriyanto Pakpahan tetap ingin membuat Minerva VX 150 miliknya tampil menawan. Ia pun mencari referensi untuk modifikasi pilihannya. Akhirnya, Heriyanto terpikat pada empat sosok moge sekaligus, yaitu Kawasaki ZX-6R, Suzuki GSX600, Honda CBR 600 serta Ducati 1198S. Wow, mimpi yang sangat tinggi!
Salah satu jalan untuk mewujudkannya adalah merombak hampir seluruh bodi. Pengusaha transportasi itu berkonsultasi dengan DJ Custom yang beroperasi di Jalan Raya Jati Kramat 88, Bekasi. Langkah pertama, merombak bodi belakang. Khusus untuk bagian ini, Heri mencomot model Ducati 1198S yang seksi.
Pengerjaan berlanjut ke depan dengan mengganti fairing custom yang dijiplak dari Suzuki GSX600. Bagian samping itu langsung dikombinasikan dengan kondom tangki bentukannya yang dicontek dari Ducati 1198S. Sementara spakbor depan meniru gaya Kawasaki ZX-6R. Proses krusial berikutnya adalah mengganti batok depan. Akhirnya dipilih duplikat Honda CBR 600.
“Bagian depan identik dengan wajah utamanya. Kalau depannya nggak bagus, ke belakang orang tidak ingin melihat lagi. Ternyata model CBR 600 bisa serasi jika dipasangkan dengan fairing GSX. Saya anggap masalah selesai, pasangannya ketemu,” terang Heri.
Bodi
Bodi yang sudah terkonsep tinggal diwarnai. Tak mau repot, Heri tetap menonjolkan warna dasar kuning agar tak mengubah STNK. Kombinasi grafis silver dan biru digunakan sebagai penyeimbang pandangan mata. “Kalau kuning semua, silau! Dikasih variasi sedikit,” guraunya.
Selebihnya, aksesoris berbicara. Untuk membuat seperti moge beneran, ban diperbesar dengan pelek lebih lebar. Lengan ayunnya masih bawaan Minerva, namun ditutup dengan kondom untuk tampilan lebih gambot dan sepadan. Sementara setang sudah diganti model jepit dan pijakan kaki  underbone.
Not bad! Nggak usah terlalu ekstrem untuk mendapatkan sekadar penampilan modifikasi. Sepeda motor blasteran Indonesia-Jerman itu pun kini berubah status menjadi sepeda motor multi-RAS. Maklum, telah melakukan poligami!

Efek Merawat Kabel Terhadap Tenaga Motor


"Selain komponen bergerak, kabel-kabel kelistrikan penting dirawat. Sebagai penghantar listrik, dia menentukan tenaga yang dihasilkan."

Alasannya simpel dan masuk akal. Begini, motor kan beroperasi jika bahan bakar diolah sempurna oleh mesin. Tapi, mustahil bahan bakar terbakar sempurna jadi tenaga jika pemantiknya jelek.

"Di motor, api busi berawal dari listrik sepul, aki, CDI, koil, terakhir di busi. Nah, jika penghantarnya buruk, listrik yang dihasilkan untuk lontarkan percikan api pun jelek. Pembakaran tak sempurna, tenaga lemes. Akhirnya bensin boros,"

Kudu diakui, kita sering cuekin kabel-kabel. Apalagi, ini bukan komponen yang kudu sering diganti. Tapi, justru di sini bahayanya. "Karena usia, kabel kekurangan daya hantar listrik. Minimal, akan terjadi korosi di tiap soket penyambungnya,".

Kabel rusak setelah pemakaian tahunan. Biasanya mulai getas. Slongsongnya mengeras, kaku. Jika dibelah, ada kerak putih korosi. Sebabnya, panas listrik dan terpapar panas mesin.



Bisa juga dideteksi lewat sambungan kabel. Biasanya, di soket penyambung, terlihat kerak-kerak putih korosi. "Di titik sambungan, hambatan arus listrik yang paling besar muncul,"

Sebenarya, mengatasinya mudah. Tinggal lepas semua soket sambungan, baik itu sambungan pengapian atau kelistrikan. Langkah selanjutnya, membersihkan kerak korosinya. Bersihin korosi mudahnya pakai cairan pembersih karat. Tinggal semprot. "Lebih baik lagi kalau tiap sambungan dibersihkan dengan sikat kawat, atau ampelas halus. Bersihin sampai terlihat lapisan logamnya,". Jika perlu, ganti satu set kabel bodi. Semudah itu merawat barang yang dicuekin, tapi amat penting?! (motorplus-online.com)